Seluruh keluargaku, bahkan keluarga besarku sepertinya memang cenderung memiliki orientasi karir sebagai karyawan. Bisa dikatakan hampir nggak ada anggota dari keluarga besarku yang berprofesi sebagai wiraswasta, kecuali budhe dan pakdhe di desa yang buka warung kecil-kecilan, dan katanya paling laris waktu musim panen datang, atau kakak keduaku yang juga kerja kantoran tapi dua tahun belakangan mulai merambah bisnis baju-baju wanita sebagai side job, tapi dia bilang kerja kantoranlah side jobnya sedangkan jualan baju adalah main jobnya. Yap!! Wanita emang target pasar yang empuk bagi para pebisnis, karena sifatnya yang konsumtif, ga tahan kalo cuma liat-liat barang aja, ga tega liat muka memelas si penjual, atau gampang terkena rayuan! Dibilang cantik atau cocok sama bajunya aja langsung beli deh nggak pake mikir lagi, nah sifat naluriah wanita ini yang konon sempat menghambat karir kakakqu sebagai penjual baju. Gimana nggak menghambat kalo tiap ada barang jualan yang dia suka, mau dia pake sendiri, yah..bisa-bisa tekor dong! Tapi dia berdalih kalo sekarang sedikit-sedikit nafsu ingin memiliki barang jualannya sendiri itu sudah mulai berkurang.
Dari kecil pun aku seperti terdoktrin untuk menjadi karyawan sampai aku memilih jurusan teknik industry pun sepertinya karena pengaruh papa juga. Tapi sekarang setelah aku lulus, aku justru bingung mau kerja apa. Aku mulai memikirkan untuk merambah dunia bisnis. Waktu kemaren belom lulus aku mencoba memulai bisnis dengan bergabung pada sebuah MLM (Multilevel Marketing). Ini pertama kalinya aku bergabung dengan MLM. Kalo ditelusuri lebih jauh, perihal MLM ini sepertinya lagi-lagi, keluarga besarku pun tidak terlalu sukses dengan ini. Contohnya papa sempet jadi member 2 atau 3 MLM yang bergerak di bidang penjualan produk-produk kesehatan dengan alasan cuma pengen beli produk-produknya saja tanpa harus menjaring member atau istilahnya sekarang downline. “Kan kalau jadi member bisa dapet diskon..” gitu kata papa waktu itu, padahal kayaknya waktu itu papa cuma beli sekitar dua kali trus berhenti gitu aja.
Lain lagi ceritanya dengan kakakku yang kedua, dia pernah nyoba jadi member MLM dari paris yang menawarkan produk kecantikan, aksesoris sampai baju pria atau wanita, yang harganya lumayan mahal pastinya. Tapi ini dia tak-tik penjualan MLM, kalau jadi member, diskonnya bisa 30%!!selain itu dia juga pernah jadi member MLM yang menawarkan produk sepatu yang slogannya “dahsyat!!” heboh sekali…pertama kali jadi member kita dapet starter kit (modul buat jualan) + CD (promosi MLM) + kartu nama!! Nah kalo yang terakhir ini katanya untuk memperkenalkan diri pada relasi. Tapi kakakku itu hanya beli produk untuk diri sendiri aja kecuali pernah suatu hari ada tetangga yang lihat-lihat catalog dan langsung pesan salah satu produk. Dengan sumringah, kakaku langsung membeli produk itu. Begitu dikasih ke tetangga, si tetangga ini hanya mengernyitkan dahi dan bilang “kayaknya warnanya beda sama yang di catalog ya??” kemudian si tetangga pun membatalkan ordernya, akhirnya produk itu jadi tambahan koleksi kakakku dan sepertinya sejak itu kakakku sudah tidak pernah lagi melanjutkan keanggotaan MLM-nya bahkan tidak pernah lagi membicarakan tentang MLM.
Bagaimana dengan kisah MLM-ku?? Well..nggak jauh dari itu. Pernah suatu hari waktu awal-awal aku hidup di Semarang sebagai seorang mahasiswa, aku ditawari oleh seorang teman sedaerah untuk bergabung dengan MLM. Dia sampai datang dengan kakaknya dan menunggu di teras kost-an karena waktu itu aku sedang tidak di kost. Ketika aku datang mereka dengan sumringah mulai mempresentasikan tentang MLM yang dimaksud, hampir sekitar satu jam lebih, aku hanya duduk terdiam dan mendengarkan, bukan karena antusias tapi lebih karena presentasi mereka memang seperti tanpa jeda, terus aja ngomong ini itu. Dari keseluruhan presentasi ini, yang aku pahami adalah rupanya MLM ini tidak begitu menonjolkan produk yang dijual, bahkan sampai akhir presentasi aku masih tidak mengerti produk apa yang sebenarnya mereka jual. Mereka hanya membicarakan tentang pohon-pohon uang, piramida dan sebagainya, intinya kita harus menjaring member sebanyak mungkin. Dan bisa ditebak, aku sama sekali tidak berminat, tapi mereka tetap saja merayu dengan menitipkan starter kit mereka, yang lumayan tebal dibandingkan dengan starter kit MLM lain.
Hari berikutnya mereka mengundangku ke sebuah pertemuan, agak malas, aku mengiyakan hanya karena merasa tidak enak saja. Alih-alih datang sendiri, aku mengajak seorang temanku, siapa tahu kalau aku bosan di sana, aku bisa mengobrol dengan temanku ini. Ternyata tempat pertemuannya kecil sekali, yang hadir pun tidak terlalu banyak dan lagi-lagi aku harus mendengarkan tentang pohon-pohon dan piramida. Besoknya aku menegaskan untuk tidak mau jadi member MLM ini dengan alas an tidak punya waktu, banyak praktikum, banyak laporan yang harus dikerjakan, tugas-tugas dan sebagainya pokoknya apa saja yang bisa kujadikan alasan.
Menjelang lulus, ketika masih berkutat dengan skripsi, aku mulai memutuskan untuk bergabung dengan suatu MLM yang menawarkan produk-produk kecantikan, dan tentunya dengan harga selangit, terutama untuk kantong anak kost. Sebenarnya sama sekali tidak ada niat untuk ikut menjadi member MLM ini, namun bos aku, yaitu orang yang merekrutku menjadi member, semangat sekali menawarkan aku untuk menjadi member, mulai dari nelpon berjam-jam, sampai memberikan catalog gratis untuk aku coba berjualan. “nanti kalau udah laku, baru kamu daftar jadi member, jadi kamu kan nggak rugi-rugi amat”. Waktu berjalan, ternyata nggak sesukses yang aku bayangkan, sasaran pembeliku salah, anak kost2an! Buat mereka lebih maik uangnya buat makan atau nonton bioskop, kalo mau beli kosmetik, ya nggak usah mahal-mahal..udah gitu catalog produk yang semula aku taro di ruang tempat berkumpul anak kost-an sering ilang karna sering dibawa masuk kamar sama anak-anak kost-an, udah gitu Cuma dibaca-baca doang tapi nggak ada yang pesen, Yah gimana mau laku….
Dari semua kejadian ini, aku hampir saja membuat kesimpulan kalau bisnis=MLM=gagal untuk anggota keluargaku, tapi berhubung jiwa bisnisku masih menggelora, sepertinya aku akan mencoba untuk membuka lahan bisnis yang baru, entah apa itu, tapi aku masih yakin kalau aku pasti bisa menjalankan ini, asal bukan bisnis tentang pohon-pohon atau piramida atau sejenis itu lagi saja.
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Minggu, 23 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar