
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer
random.absurd.delusion.weird.mellow..yeah. it's my blog!


Apa kata-kataku terlalu kasar untukmu? Dulu aku pernah berkata selembut mungkin di telingamu, tapi itu cuma bisa membuatmu tersenyum, tidak bisa membuatmu jadi milikku.
Apa aku sedang lari darimu? Mungkin. Tapi aku pernah begitu mengejarmu, terus mengejarmu hingga aku terjatuh. Sakit sekali. Lukanya masih bisa kulihat. Pasti terlihat olehmu juga. Tapi untuk apa, kau hanya bisa diam, kau tetap tidak bisa menjadi milikku.
Apa aku sedang menghindarimu? Dulu aku pernah panik mencarimu, mengharap cemas dari jauh, bahwa kata-katamu masih bisa kugenggam penuh. Tapi percuma, hanya dusta yang kutelan bulat-bulat.
Apa aku kini memilih yang lain? Sudah seharusnya. Kamu pernah menjadi satu-satunya pilihanku, tapi kau sendiri yang memutuskan, bukan hatiku yang kau selamatkan. Entah hati siapa.
Tapi apa aku sanggup meninggalkanmu? Aku pernah begitu sanggup mencintaimu. Berbalik arah benar-benar tidak mudah. Aku melawan angin yang selalu menujumu. Tapi kau tahu? Angin kadang menyesatkan.

Lihat dirimu. Pohon tua yang menahan ku di semua waktumu. Rantingmu mencengkram tubuhku terlalu keras. Aku sakit. Lihat aku. Aku memang dedaun yang tak setia. mengering sebelum kemarau tiba dan jatuh luruh bersama hujan
Tapi tanah tak mengijinkanku untuk pergi jauh. Aku tetap melekat, tepat di sebelahmu berpijak, menatapmu dari bawah sampai waktu menghancurkanku, Lebur bersama tanah, menjadi santapan mulut-mulut akarmu, dan kembali menjadi helaian daun.
Jika itu terjadi, aku memilih melekat pada rantingmu yang akan lembut menopangku, bukan rantingmu yang mencengkramku kuat.

Pantas aku menyukai hujan. Di tiap titik-titik hujan yang berderap di bumi, di situlah mengalun banyak cerita, banyak kisah banyak luka. Coba dengarkan perlahan. Hujan mengajakmu bercerita. Kau hanya perlu memasang telingamu lekat-lekat. Ritmenya tiap saat berganti. Kadang angin menyeretnya terlalu keras lalu hujan membalasnya dengan jatuh lebih banyak dan mendentum lebih keras ke tanah. Itu adalah luapan emosinya.
Lihat, kadang hujan menghadiahkan kita pelangi. Bentuknya tidak vertikal, tidak horizontal tapi membentuk lengkungan. Seperti garis bibir yang sedang bersedih. Tapi dia punya banyak warna. Merah jingga kuning hijau biru nila ungu semua berpadu menjadi satu lengkungan indah. Seperti ia ingin mengatakan bahwa sedih itu indah. Luka itu indah. Air mata itu indah.
Jadi..apa kamu mulai menyukai hujan? J

kamu seperti gulma. Aku tidak pernah (sengaja) menumbuhkanmu, tapi kau selalu saja muncul. Memenuhi sepetak lahan kosong. lahan yang dulu sempat basah dan becek karna hujan badai yang terus menerus datang. Kini lahan itu mulai mengering dan sedang kupersiapkan begitu rupa. Lalu munculah kamu. tanpa pernah (sengaja) kuharap. Lalu aku akan susah payah mencabutimu helai demi helai sampai ke akarmu. Tapi kau terus bereinkarnasi. Terus tumbuh, bahkan semakin banyak. Sepertinya kau tidak rela lahan ini kosong begitu saja. Aku menyerah. Silahkan tumbuh di mana saja. Silahkan penuhi terus semampumu. Aku akan menunggumu lelah bereinkarnasi. Aku akan menunggumu layu dan mengering sendiri, lalu mati dan perlahan menjadi pupuk yang akan menjadikan sepetak lahan ini subur.
Aku masih bisa melihatnya. Dari balik jendela bus yang keruh dan berdebu. Tapi dia..dia masih terlihat cemerlang. Seperti sengaja duduk di bawah rindang pohon tepat di seberang mataku sambil memandangiku lekat. Sesekali tersenyum.
Mesin bus terus menderu, seperti siap untuk melaju kencang. Tapi mataku tetap tertahan pada senyummu. Begitu juga hatiku yang sengaja kutitipkan untuk kau bawa pulang. Oleh-oleh dari perjalanan hidupku yang masih menyimpan rindu untuk satu nama. Kamu.
Hapeku berdering. Pesan singkat darimu. “Hati-hati..” jemariku spontan mengetik balasan “aku ingin muntah” lalu aku menoleh padamu lagi sambil kucemberutkan bibirku. Aku masih ingin menjadikanmu tempatku manja. Dengan cepat kau balas “muntah ke orang yang duduk sebelah kamu saja”
Aku tersenyum, melirik sekilas perempuan di sebelahku yang mati-matian menahan kantuk sedari tadi. Lalu aku tertawa sambil memandangmu. Kau pun tertawa. Kita masih bisa tertawa bersama, setidaknya beberapa detik lagi sebelum bus ini benar-benar melaju.
Tiba-tiba air mata itu menetes perlahan dari pelupuk mataku. Susah payah tadi kujaga agar tidak menetes, tapi pedihku tak mungkin di bendung lagi. Aku masih rindu. Kau terlalu lama menghilang. Rasanya menahun sudah kuendus jejakmu pada tanah rindu yang basah. Kini di tengah perjalanan waktu, aku sudah menemukanmu, tapi kenyataan menyeretku untuk pergi lagi. Kali ini aku yang akan menghilang.
Dan di antara keruh dan debu jendela itulah terakhir kali mata ini menangkap bayangmu, sekarang tidak ada lagi jejakmu di tanah rindu yang basah. Semua kuhapus dengan jejakku sendiri. Firasatku benar, akan ada hari dimana kamu akan menjemputku, lalu di hari yang sama…kenyataan juga menjemputku untuk pergi.
Aku pernah berlari..sembunyi di ribuan bilik. Berharap kau tak kan pernah lagi menangkap bayangku. Kini aku meringkuk gelisah. Karena kau tak lagi mengetuk satu bilik pun tempat persembunyianku. Kau tahu aku hanya pura-pura tuli. Tapi telingaku menyimpan suaramu rapat-rapat. Kau tahu aku hanya pura-pura bisu. Tapi mataku tak henti bercerita tentang kita. kini aku siap membuka pintu persembunyianku. walau setelah itu kau akan membantingnya sekalipun.