Aku sangat suka lagu-lagu Yusuf Islam. Selain karna musiknya yang bagus juga makna dari setiap lirik yang begitu indah yang menceritakan tentang syariat islam. Salah satu lagu favoritku adalah Your Mother. Liriknya begini..”who should I give my love to, my respect and my honor to, who should I pay good mind to after Allah..and Rasulullah…comes your mother..who next? Your mother..who next? Your mother…and then your father…” lirik ini pastinya terinspirasi dari hadist Rasulullah tentang seorang ibu. Dimana kita, harus menghormati ibu kita tiga kali lipat dari pada ayah kita.
Mungkin, ada berjuta alasan kenapa kita harus menghormati ibu, ibulah yang mengandung dan melahirkan kita dengan derita yang bertubi-tubi selama itu. Ibu yang merawat kita, memandikan kita sewaktu bayi dan banyak hal lain. Lalu bagaimana dengan ayah??
“Papa” adalah caraku memanggil ayah. Sewaktu kecil, bisa dibilang papa tempatku mengadu. Aku masih ingat tiap kali ada yang menggangguku bahkan kakakku sendiripun, papa selalu ada di garis depan untuk membelaku. Papa itu pintar sekali! Dia bisa segala hal dari mulai benerin mobil, elektronik, bahkan menjahit! Papa pintar sekali menjahit, papa pernah membuatkanku baju, selimut, hmm..padahal papa itu nggak pernah kursus menjahit, wew! Tapi ada satu yang papa nggak bisa. Memasak. Pernah suatu hari ketika aku masih SD, papa membuatkan nasi goreng sebagai bekal makan siangku di sekolah. Yah, hari itu mama pergi ke luar kota sedangkan aku ada tambahan pelajaran sampai sore, biasanya memang mama selalu membuatkan bekal untukku, tapi kali ini terpaksa papa yang buat dan rasanya??! Asin banget! Ugh...papa memang sepertinya nggak berbakat memasak. He..he..
Semakin dewasa aku..semakin aku jauh dari papa. Entah mengapa aku jadi lebih merapat ke ibu. Aku jadi jarang ngobrol dengan papa, kecuali ada hal penting yang memang papa harus tau. Selebihnya..kita seperti dua orang asing saja di rumah. Tapi aku tau, bagaimanapun..sayang papa tetap sama seperti dulu, perhatian papa nggak pernah berubah dari dulu. Papa yang mengajarkanku bagaimana cara seorang laki-laki berpikir, papa yang melindungiku dari mereka yang menurut papa hanya akan menyakitiku saja, papa yang memberikanku semangat tiap kali aku gagal, dan memberikan selamat tiap kali aku mendapatkan prestasi, papa yang dengan sabar mengajarkanku naik sepeda, motor dan mobil. Papa yang siap sedia mengantarku kemanapun aku mau, bahkan ke luar kota sekalipun. Bahkan sampai lewat masa pensiun pun papa masih saja bekerja. Aku membayangkan betapa lelahnya dia harus bekerja di usianya yang sudah tua ini. “Untuk mengisi waktu saja”, kata papa. Padahal aku tau, mungkin salah satu alasannya masih bekerja adalah karena aku yang belum bisa mandiri. Aku satu-satunya anaknya yang masih tergantung secara financial ke papa, karena belum juga dapat kerja.
Hmm..papa..di dalam lubuk hatiku terdalam..kau adalah idolaku. Aku membayangkan betapa sulitnya untuk bisa menjadi seperti dirimu, menjadi sebijak dirimu, menjadi si serba bisa seperti dirimu, menjadi sehebat dirimu. Papa..maafkan aku yang masih belum bisa membalas jerih payahmu selama ini…tapi aku janji..suatu hari nanti..aku pasti akan membuatmu bangga. Mungkin saat ini hanya doa yang bisa kupanjatkan untukmu..semoga papa selalu diberi nikmat sehat, nikmat iman dan selalu dirahmati Allah SWT. Amin…luv u papa..
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Minggu, 23 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Amien.....hihihihihi,
Posting Komentar