Jumat, 03 Desember 2010

Desember tiba. Tahun segera berganti. Ah toh hanya sekumpulan angka saja. Seperti usia yang menandai sudah berapa lama kau hirup nafas. Itu hanya angka. Tapi kedewasaan tidak mengenal satuan angka. Kedewasaan tidak menghitung berapa helai rambutmu yang memutih. Dan sungguh. Tanyakan pada ia yang mencapai angka 100 pada usianya. Hidup selama itu, apakah ia merasa telah benar-benar dewasa?

Seringkali mereka yang beberapa tahun lebih tua menegurku. Irma..dewasalah! lihat umurmu sekarang sudah berapa. Lalu hanya kujawab dengan satu pertanyaan. “Lalu apa itu dewasa?” Mereka diam sejenak. Berpikir juga sepertinya. Lalu perlahan menjawab. “Dewasa itu adalah kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Setiap kamu bangun pagi, kamu sudah tau apa yang kamu akan lakukan, dan yang jelas orang dewasa itu punya prinsip, sehingga mereka tidak terombang – ambing." Begitulah jawaban mereka.

“Oh begitu.” Jawabku singkat. Pikiranku menerawang. Menelusuri jejak hari-hari yang selama ini kulewati. aku adalah orang yang senang sekali membuat jadwal harian. Beberapa teman dekatku tau kebiasaanku ini. Ketika aku merasa banyak yang harus kulakukan, aku akan menulis di kertas kosong. Kuberi judul dengan tulisan besar-besar. “THINGS MUST TO DO” lalu aku menulis daftar hal-hal yang harus aku lakukan. Termasuk hal sepele semacam “jangan lupa potong kuku” well ya. Kurang terperinci apa aku ini. tapi apakah itu menandakan bahwa aku dewasa? Hmm…sepertinya bukan itu juga makna kedewasaan seharusnya. Lalu tentang prinsip. Tanyakan pada mereka yang mengaku punya prinsip. Mereka pasti menambahkan poin-poin toleransi di bawah prinsip mereka. Hidup itu berubah tiap waktu. Dinamis. Bukan statis. Bahkan mereka yang punya prinsip itu pun seringkali menolerir prinsipnya sendiri demi menyesuaikan diri dengan hidup yang terus berubah. Manusia itu adaptif bukan?

Dewasa sudut pandangku adalah “proses”. Dalam seumur hidup kita, kita nggak akan mungkin benar-benar menjadi dewasa. Ada kalanya kita tidak bisa dan tidak mau berpikir dewasa. Ada kalanya kita hanya ingin menangis dan berteriak. Tapi ada kalanya juga kita bisa menerima dan tetap tenang.

Dewasa adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan tak pernah ada klimaksnya. Dewasa adalah respon kita menghadapi kekacauan dan kenikmatan hidup. Aku pernah membuat hidupku kacau. Mendobrak norma yang ada. Menjadi sangat naïf dan bodoh. Siapa juga yang tidak pernah? Tapi dari situ aku belajar merespon. Dari situ aku belajar dan terus belajar untuk menjadi cerdas, untuk tidak mengulangi kekacauan yang sama.

Aku pernah membeci mereka yang membuat hidupku kacau. Membuatku melangkah di jalan yang salah. Tapi sekarang aku mensyukuri mereka pernah ada. Karena dari mereka aku mengenal kata salah untuk kemudian mencari apa yang benar.

Sungguh. Kau harus mensyukuri kekacauan dalam hidupmu. Bersentuhanlah dengan penat, luka, pedih, tawa, senang, eforia. Semua itu mengajarkanmu cara merespon. Respon yang paling benar itu tidak akan ada. Yang ada hanya respon yang lebih baik dan lebih baik. Karena sekali lagi. Dewasa adalah proses. Bukan klimaks.

Ah ya kenapa saya senang sekali menggurui. Mungkin ini juga salah satu proses saya menjadi dewasa. :p


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar