Senin, 04 April 2011

News or Drama??

Media berita sekarang udah kayak infotainment aja, berita disiarkan secara dramatis, berapi-api, dilebih-lebihkan, diulang-ulang dan rata-rata HOAX alias nggak sesuai fakta lapangaan. Belom lagi backsound lagu yang mengiringi siaran berita tersebut. Lo kata drama??!


Terutama untuk stasiun TV news, yang materi siarannya berita semua selama 24 jam, sebut saja TV bunga..eh, ngg…kok kesannya jadi kayak tv korban pencabulan ya? Ok, kita ganti. Sebut aja TV satu dan TV matre, dimana banyak yang berpendapat kedua stasiun TV ini sarat banget muatan politis, nggak netral karena backing mereka orang-orang politik semua.


Liat aja tiap ada kejadian apapun yang terkait huru-hara di Indonesia, langsung mereka dengan gegap gempita nayangin siaran 24 jam yang isinya melulu memojokkan pemerintah. aku bukannya pro SBY, tapi presiden kita itu kita sendiri yang milih, ibarat pilih suami (aku juga nggak tau knapa contohnya suami), mau gimana pun jeleknya dia, dia adalah orang yang udah kita pilih kan? kalo kebijakan presiden nggak didukung rakyatnya, mau gonta-ganti presiden sejuta kali pun hasilnya tetep sama. pihak oposisi itu udah pasti penting banget perannya, tapi sebagai kritik terhadap pemerintah, bukan sebagai pihak pengacau suasana.


Apalagi kalo ada peristiwa bencana. Aku salut banget sama Jepang yang dengan tegas melarang pengambilan gambar-gambar para korban yang udah meninggal, di Indonesia? Jelas banget di shoot satu-satu. Belom lagi pake backsound music sedih kayak lagunya Ebiet G Ade, Opick..ckckck..ini bencana woy! Bukan sinetron! Too much drama deh.


Sering banget justru pihak media lah yang membuat suasana tambah panik tiap kali ada kejadian bencana di suatu daerah, kayak misalnya waktu gunung merapi meletus kemarin, tiap kali Merapi memuntahkan lahar atau wedus gembel, mereka langsung heboh sendiri dan malah membuat panik warga, dan masih inget banget waktu itu wartawan “TV satu” repot banget nanyain warganya yang lagi lari-lari karna panik ngungsi, dan keluarlah pertanyaan bodoh seperti: “Bagaimana perasaan ibu?”


Ya Menurut Lo???!


Sempet denger berita tentang pengusiran si wartawan “TV satu” dari lokasi bencana dikarenakan ulahnya yang suka bikin heboh warga pengungsian. :p


Waktu tsunami Jepang kemarin, saking berlebihannya pemberitaan tentang ini di Indonesia, dan terkesan malah tambah meresahkan warga Indonesia yang keluarganya ada yang tinggal di Jepang, akhirnya perkumpulan mahasiswa Jepang dari Indonesia bikin surat peringatan yang intinya, mereka ngerasa nggak nyaman dengan pemberitaan media Indonesia yang terlalu berlebihan, sehingga membuat orang-orang tambah panik, padahal kenyataan sebenarnya di Jepang nggak seperti itu.


Belakangan waktu ada kejadian tanki pertamina cilacap meledak ini, para media terutama 2 media TV news ini juga meliput langsung dari tempat kejadian selama beberapa hari. walaupun udah hari-3 si wartawan “TV satu” ini masih aja salah kasih info. Ini kan kilang minyak pertamina UP IV, dia mengartikan sendiri kalo UP itu adalah Unit Pemasaran. Lah! buat apa ada kilang dan tanki kalo begitu?? Ini Unit Pengolahan woy..! bukan pemasaran. Apa mereka nggak survey dulu sih sebelum buat reportase? Bukan Cuma aku, banyak banget yang mempertanyakan kecakapan wartawan-wartawab TV satu, termasuk pernah aku baca di salah satu tweet orang,


“ini yang bisa jadi wartawan TV satu harus diseleksi atau bisa siapa aja sih?” kemudian ada yang jawab “yang penting mereka harus punya ijazah SD!” -___-“


Baiklah, mungkin si wartawan sedang khilaf, tapi si “TV satu” lebih nambah masalah dengan mengadakan dialog tentang ledakan tanki ini. mereka menghadirkan salah satu ahli ekonomi sebagai nara sumber. Si ahli ekonomi ini emang sering banget diundang sama “TV satu” dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut dia selalu memojokkan pihak terkait terutama pemerintah. Dia bilang waktu itu bahwa pengendalian kebakaran terlambat, akibatnya kebakaran tanki keburu menjalar sampe 3 tanki. Dia juga bilang penyemprotan foam itu baru ada setelah tanki ke-3 meledak, bukan diberikan saat tanki pertama meledak.


Cara dia ngomong seakan-akan cuma dia doang yang ngerti masalah K3 perusahaan minyak. Kalimat dia mentah-mentah langsung dibantah pihak humas Pertamina, karena memang sebenarnya foam itu udah disemprotkan saat ledakan di tanki pertama, tapi karena angin dan sebagainya akhirnya menjalarlah api itu ke 2 tanki lainnya, tapi penanganan kebakaran udah sesuai SOP, termasuk melokalisir minyak di tanki-tanki sebelahnya dengan mengosongkan tanki itu, jadi kalaupun menjalar, nggak akan terjadi ledakan yang membahayakan karna tanki udah kosong.


Dan si ahli ekonomi yang kayak gini nih yang dijadiin nara sumber sama TV satu?? Menggelikan!



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar