Senin, 23 Agustus 2010

Berjodoh dengan Kematian

“Sebenarnya jodoh abadi kita adalah kematian, kita semua pasti akan bertemu dengannya, cepat atau lambat.”

Sungguh setelah membaca kalimat ini dari sebuah novel, aku langsung tertegun. Buatku ini sangat menarik, sudut pandang yang unik dalam memandang sebuah kematian. Novel ini adalah sebuah memoar seorang penderita lupus, dia sendiri yang menulis catatan-catatan hidupnya dari mulai lahir hingga divonis menderita lupus di usia yang sangat muda, 20 tahun, dan bagaimana ia menjalani hidup untuk seterusnya. Di perjalanan hidupnya yang berliku itu, satu persatu orang-orang yang ia sayangi pergi untuk selamanya. Kejadian demi kejadian dalam hidupnya membuat ia mengambil keputusan untuk berteman saja dengan kematian, karena memang tidak ada yang akan abadi di semesta ini. Dia, saya, kamu atau siapa pun pasti akan bertemu dengan jodoh abadi kita. Kematian.

Di bulan ramadhan ini aku dapat ilmu baru tentang kematian, bahwa sebenarnya kita itu dibuat mati oleh Allah SWT setiap harinya. Yup, di saat kita tidur, sebenarnya Allah SWT mengambil ruh kita, perbedaannya dengan ketika mati adalah, ruh kita dikembalikan lagi ketika kita bangun tidur sedangkan bila kita mati, ruh kita tidak dikembalikan lagi. Jadi, sebenarnya kita itu tiap hari pasti bertemu dengan kematian, lalu apa yang harus kita takutkan?

Seperti kalimat pertama tadi, bahwa jodoh abadi kita adalah kematian, seharusnya kita harus benar-benar siap ketika bertemu dengan jodoh abadi kita itu. Aku pikir, siapa yang mau terlihat kucel, kuyu atau jelek ketika kita bertemu jodoh kita? Nggak ada yang mau. Di bayanganku, ketika nanti aku bertemu jodoh abadiku, aku ingin benar-benar dalam keadaan suci, dengan muka yang bersih, tersenyum, baju yang rapi menutup aurat dan mendendangkan lafaz Laa Ilaa ha ilallah dengan mantap, dengan kata lain..aku ingin bertemu jodoh abadiku dalam keadaan khusnul khotimah. Amin Ya Robbal ‘alamin…

Kamu atau siapapun yang membaca tulisan ini mungkin sebagian akan berpikir, sepertinya aku adalah orang yang mantap sekali untuk mati, orang yang desperate, pesimis menghadapi hidup. SALAH BESAR. Dengan memaknai arti sebuah kematian seperti ini, kita akan lebih menghargai hidup kita, tiap detik ketika Allah SWT masih menyuplai oksigen untuk kita hirup, tiap detik itu pula kita harus mengindahkan hidup kita, melakukan hal-hal yang membuat hidup kita lebih berharga, menjadikan kita seperti “BUMN pribadi”  mengusahakan sebesar-besarnya kebahagiaan orang banyak. Ehm..analogi yang aneh, mungkin karena terlalu terobsesi dengan BUMN. >”<
Aku punya mimpi, punya obsesi, punya tujuan hidup yang harus kucapai, sebelum aku bertemu kematian, mudah-mudahan Allah SWT pun sependapat denganku dan membiarkan aku mengejar semua itu dulu, sebelum masa berlakuku di dunia ini habis. Ya… Allah... Ya???

Dan itulah harapanku, sebuah harapan untuk menghidupi hidup. Terlalu muluk? Atau terlalu naïf? Biarlah, kata Om Mario Teguh (sok akrab), “harapan adalah tali-tali penghubung doa-doa kita.” dan pastinya harus beriringan dengan usaha, serta mati-matian melawan musuh terbesar kita  “mengeluh”, nah ini dia nih yang bisa mematikan semua harapan kita. Awalnya mengeluh, untuk kemudian mulai putus asa, dan ujung-ujungnya mematikan harapan kita sendiri dan memilih menjadi tidak berguna. Semoga..semoga..dan semoga…aku, kamu dan siapa pun diantara kita bisa menghidupi hidup kita dengan sebaik-baiknya. Amiiin Ya Robbal ‘alamin… 

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar