Aku pernah jatuh cinta, padamu…benar-benar jatuh, terbentur keras sekali, hingga membuatku terluka, ketika itu, aku sempat berkhayal, kamu akan datang dengan segera, menyembuhkan luka. Percuma saja. Kau tidak pernah datang. Tapi tenang.. stok maafku terlalu banyak untukmu.
Aku setia duduk di sini, di tempat ini, melihatmu berkelana, bermain-main dengan hatimu, lalu menunggumu kembali padaku, bersimpuh penuh sesal. Aku menyebutnya palsu. Tapi toh aku tetap menunggu.
Aku terlalu semangat berlari, hingga tak kulihat ada lubang yang begitu dalam, hanya beberapa langkah di depanku, mereka menyebutnya kolam masa lalu. Aku tercebur ke dalamnya, aku bahkan lupa kalau aku tidak bisa berenang, kini aku tenggelam. Lumpurnya memenuhi rongga udaraku, aku sesak nafas.
Mereka mencoba menarikku keluar, tapi kau dorong lagi masuk ke dalam, bahkan lebih dalam dari sebelumnya. Aku tak sadarkan diri. Kini otak kecilku yang berkuasa. Aku menjadi rabun. Kata “salah” kueja “benar”, kata “dusta” kueja “cinta”. Mungkin aku memang permisif. Membiarkan diriku lebur dengan luka, merelakan hatiku memantul-mantul di antara serpihan duri. Aku ingin menepi, tapi angin tak pernah menuntunku ke tepi.
Aku suka cara Tuhan menegurku, seperti gelombang laut yang menamparku keras, tepat di depanNya. cukup sakit, tapi cukup ampuh untuk membuatku kembali ke alam sadar. Alam nyata. Seluruh organku seketika terjaga. Juga hatiku. Teksturmu kini semakin jelas. Aku tak lagi rabun. Kamu berubah transparan. Aku bisa melihat hatimu dengan jelas, dan tak ada namaku di situ, yang kutemukan hanya egomu.
Cintamu terlalu rumit. Acak . Labil. Aku memilih mundur…silahkan berkelana sendiri…jangan menoleh ke belakang, aku tak lagi menjagamu dari kejauhan.
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Minggu, 07 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar