Minggu, 07 November 2010

Harta karun putih abu-abu

Beberapa tahun usang….saat putih abu-abu menjadi warna yang tak asing di tubuhku, aku menyimpan banyak cerita. Kusatukan dalam sebuah lembaran buku. Kini aku menyebutnya harta karun. Karena usianya mungkin sudah 7 tahun lebih. Kalau dia adalah seorang manusia, tentu dia sudah memakai putih-merah di sampulnya. Tidak ada yang pernah tahu. Aku menyembunyikannya selama itu. Tapi aku tahu, suatu hari pasti harta karun ini akan kuperlihatkan. Pada mata yang haus kata. Pada hati yang haus kenangan.

Agak menggelikan sebenarnya. Aku menahan diriku untuk tidak tergelak. Tiap kali kubuka harta karunku. Beberapa penggalan kata yang saling menyatu. Pedih, galau, riang, bimbang sebagai perekat tiap kata. Saat itu aku menyebutnya puisi. Tapi kini aku menyebutnya curhat colongan. Bahkan aku sudah lupa siapa sosok dibalik tiap kata itu. Ehm. Baiklah, itu dusta. Mana bisa aku lupa.

Halo mata yang haus kata. Hati yang haus kenangan. Inilah beberapa puisi itu. Tolong tahan dirimu untuk tidak tertawa. Aku tau itu susah. Tapi cobalah sebisa munkin. Sebentar..aku mau menyumpal mulutku agar tidak terbahak. Lagi. Oh iya, aku jarang memberi judul pada puisi, judul seperti membatasi imajinasi. Jadi kuberi saja judul seperti kita menghitung ya. Satu..dua..tiga..

1st….
Di lembaran putih ini..penaku menari
Di lembaran putih ini..hatiku bercerita
Tentang riang dan pedih yang silih berganti menyelimuti diri
Di lembaran putih ini..kusimpan waktu yang terkenang
Dan di lembaran putih ini..semua kisah kan terangkum syair.

Puisi ini mengisi lembar awal, untuk kemudian berlanjut ke lembar-lembar berikutnya.


2nd….
Kamulah getar pertama yang meruntuhkan pondasi ruang hatiku
Kamulah tetes embun pertama yang melepaskan dahagaku dalam fatamorgana cinta
Kamulah mentari pertama yang menyilaukan mata hatiku
Walau gerakmu tiada pasti
Namun aku terus di sini, menunggu cinta itu.
Jangan tanya kenapa.

Nah. Jangan kira di balik puisi ini adalah sosok cinta pertamaku. Ah..aku tidak tau apa itu cinta pertama. Bagiku, tiap kali jatuh cinta, itulah yang pertama. *ih ngegombal* *biarindeh*

3th….
Terpesonalah bumi
Saat mentari mengepakkan sayap-sayapnya
Saat alam memancarkan sejuknya dunia
Tak terasa hati pun tergugah
Mengiba segala harapan
Menerobos anganan indah
Rengkuh aku, wahai segala kesempurnaan
Letakkanlah bayangmu di jiwaku
Biarlah kutatap indahmu lewat kekagumanku.

Satu hal yang menggelikan. Umur belasan aku bisa menulis puisi jatuh cinta. Sekarang kenapa susah sekali??? Kenapa?? Kenapa??? *ngomong sama tembok*

4th…
Sunyi semakin menampar keheningan malam
Menyadarkan detik yang seketika terhenti
Menggugah asa yang terus berlalu
Ada pagi meninggalkan resah
Saat kata terangkum dalam kebisuan
Saat mata menangkap bayang kasih
Entah sampai kapan hati ini kan terus terjaga.

*eh boleh aja loh diskip kalo emang lambung anda seketika bereaksi* *mau muntah maksudnya* *sodorin ember*

5th…
Kau adalah bayang yang tak kan pernah tergapai
Jejak yang tak kan pernah kuhirup
Senandung yang tak kan bisa kunyanyikan
Silet yang menyayat seluruh tubuhku
Duri yang menghancurkan seluruh hatiku
Kau ada di sekitarku, mengelilingiku dengan keangkuhanmu
Mematahkan satu per satu sayap suciku
Tapi kau masih sempat menyisakan sepercik khayalan indahku tentangmu.

*ZZZZzzzzzzzzzz……..*

6th…
Ada puisi tercatat di langit biru
Ada daun-daun mengeluh disayat keringnya angin
Cinta pun tenggelam
Ditelan oleh sorak-sorai suara kehidupan
Rindu yang telah lama berakar di dalam hati
Tak kan ada yang dapat menghilangkannya
Atau mencabutnya
Belum putus juga harapan
Merenung aku dalam kalbu

*emakasih loh masih diterusin baca* *ngupil*

7th…
Semua hilang
Lenyap bersama waktu
Asapun berlalu, tak kan lagi hasratku menggebu
Semua terkikis perih
Cinta membuatku terlena oleh rengkuhan lembutnya
Dan membuatku hancur dengan sayatan tajamnya.

*eh..eh..dah mulai patah hati nih* *terus kenapa* *tidur lagi*

8th…
Mungkinkah aku menjumpaimu di ufuk perjalanan ini Tuhan?
Mungkinkah aku bisa menggapaimu dalam lintasan perjalananku yang kian terseok dan terbata-bata ini?
Aku bukan sang pendoa yang mampu menguak singgasanaMu dengan sejuta bahasa
Aku hanyalah pungguk yang tiap saat mencoba tuk menatap mentari lewat celah-celah jiwaku
Berharap cahaya itu sedikit menyentuhku
Dan menyadarkanku akan hangatnya kasihMu Tuhan….

Ada yang teriak STOP?? Baiklah. Masih banyak serpihan harta karun yang belum kubuka. Dari pada orang-orang jadi memborong mylanta karna tiba-tiba lambung mereka meronta. Lebih baik saya cukupkan saja. Puisi-puisi di atas bukan sekedar harta karun untukku, tapi sebagai pembuktian bahwa ABG labil itu nyata adanya. Apa??sampai sekarang pun saya masih labil?? *langsung nelen pil anti-labil* *eh keliru pil anti-hamil* *hloh*

Sastra adalah ilmu tanpa henti. Tanpa klimaks. Dan belajar sastra adalah proses. Di saat putih abu-abu, aku jatuh kagum dengan Kahlil Gibran dan Dewi Lestari. Dua sosok, beda gender, beda generasi. Tapi sama-sama menjadi inspirasi. Sekarang, aku jatuh kagum pada banyak pecinta kata. Nama mereka asing. Namun karya mereka menginspirasi jemariku untuk tetap liar menggubah kata. Mereka-mereka..guru kosakata-ku. Dan tiap moment kehidupanku adalah jiwa dari tiap kata.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar