Aku melihat pelangi, mereka mengeja warnamu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Aku curiga aku mulai buta warna, aku tidak bisa membedakan tiap warnamu. Apakah benar di awali dengan merah dan diakhiri dengan ungu?? Tapi tiap kali aku sedang memperhatikanmu dengan seksama, dengan cepat kau pun berubah, menjadi semburat tipis, lalu lenyap ditelan awan. Meninggalkan rasa penasaranku yang akhirnya berubah lenyap juga seiring waktu.
Langit berubah warna, menjadi gelap. Lalu aku melihat bintang. Cahayamu menyilau lalu surut, lalu menyilau lagi kemudian surut lagi, lama-lama kau menjadi kecil..semakin kecil…dan kecil lalu lenyap. Mungkin awan juga yang menelanmu.
Aku tidak pernah meminta awan memuntahkan pelangi atau bintang. Sekedar menyembuhkan rasa ingin tahuku. Itu percuma. Di hari lain mereka pasti datang lagi. Lalu lenyap lagi. Lalu datang lagi. Tapi awan tetap baik hati. Ia meminta mentari muncul di hadapanku. Sinarnya membuatku hangat. Silau. Hingga membuatku benar-benar lupa bahwa ada rasa penasaran yang harusnya tetap kujaga. Rasa ingin tahu. Itulah kenapa aku tidak pernah menunggu pelangi atau bintang. Karena mereka pasti akan datang walau sudah pasti akan pergi juga. Mereka nomaden. Aku yang konstan. Di sini. tanpa menunggu.
Kamu..kamu dan kamu-kamu lah pelangi dan bintang itu. Datang dan pergi. Bukannya aku berjalan lambat, tapi aku sedang menerka, aku sedang mengeja dengan seksama, apa warnamu, bagaimana teksturmu. Apakah lenganmu cukup kokoh menopang jiwa mimpiku, apakah hatiku cukup nyaman bersemayam dalam liang hatimu. Mungkin aku yang terlalu ragu menahanmu tapi bisa jadi kamu yang terlalu bosan bertahan. atau waktumu terlalu singkat untuk menunggu. maka kupersilahkan kau berburu, mencari yang sigap menahanmu. Aku di sini saja, menanti galaksi yang survive.
Terima kasih mentari. Untuk tetap menemani.
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Minggu, 07 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar