Kau mengajakku berlari, aku mengikuti. Beberapa langkah di belakangmu. Langkahku mulai terseok. Kakiku letih. Tapi kau tak pernah menoleh ke belakang. Kau terus mengajakku berlari.
Kau kirim Serangkaian kata, bertubi-tubi datang ke dalam otakku. Kata-kata itu mulai stuck. Seperti bottle neck pada rangkaian proses produksi, aku sekuat diri mencerna tiap kata, bahkan huruf demi huruf. Kau mulai berteriak, aku terlalu lama menggunakan waktuku. Kau ingin aku segera mengerti. Kau ingin kata-kata ini secepatnya kucerna, karena ada serangkaian kata-kata lain darimu, menunggu untuk ku cerna. Kau adalah pangeran sejuta kata tapi telingamu anti kata. Kau sibuk berteriak, hingga kata-kataku tak terdengar.
Cintamu seperti menghentikan aliran relaksasi tubuhku. Membuat jiwaku selalu terjaga. Was-was. Ketakutan. Oh, aku tidak pernah mengasah otakku sekeras ini untuk selalu berpikir. Otakku mendidih. Dahiku panas. Hatiku?? Jangan tanya bagaimana teksturnya kini. Bahkan aku ragu warnanya masih merah pekat.
Hmmhh… Menyaksikan gerak-gerikmu membuatku menelan ludah. Sampai kembung rasanya. Aku bukan kaki gunung tempatmu menumpahkan lahar panas, tapi tetap setia menjagamu dari bawah. Jangan paksaku menjadi tetap naïf. Senaif dirimu yang masih mencoba menahan lajuku. Kuletakkan semua cerita di sini. diakhiri kata “selesai” sebagai klimaksnya.
kubiarkan jarak bersemayam di antara kita, dan tetap kubiarkan seperti itu. Jangan pernah melangkah, walau seruas jari pun, karena percuma juga. Aku sudah terlalu jauh berbalik arah dan terlalu enggan melirik ke belakang. Aku lelah mencerna kata yang kau ucap, untukku itu tak bermakna.
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
theproperty-developer
Minggu, 07 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar