Senin, 06 Desember 2010

Kau cemerlang diantara keruh dan debu

Aku masih bisa melihatnya. Dari balik jendela bus yang keruh dan berdebu. Tapi dia..dia masih terlihat cemerlang. Seperti sengaja duduk di bawah rindang pohon tepat di seberang mataku sambil memandangiku lekat. Sesekali tersenyum.

Mesin bus terus menderu, seperti siap untuk melaju kencang. Tapi mataku tetap tertahan pada senyummu. Begitu juga hatiku yang sengaja kutitipkan untuk kau bawa pulang. Oleh-oleh dari perjalanan hidupku yang masih menyimpan rindu untuk satu nama. Kamu.

Hapeku berdering. Pesan singkat darimu. “Hati-hati..” jemariku spontan mengetik balasan “aku ingin muntah” lalu aku menoleh padamu lagi sambil kucemberutkan bibirku. Aku masih ingin menjadikanmu tempatku manja. Dengan cepat kau balas “muntah ke orang yang duduk sebelah kamu saja”

Aku tersenyum, melirik sekilas perempuan di sebelahku yang mati-matian menahan kantuk sedari tadi. Lalu aku tertawa sambil memandangmu. Kau pun tertawa. Kita masih bisa tertawa bersama, setidaknya beberapa detik lagi sebelum bus ini benar-benar melaju.

Tiba-tiba air mata itu menetes perlahan dari pelupuk mataku. Susah payah tadi kujaga agar tidak menetes, tapi pedihku tak mungkin di bendung lagi. Aku masih rindu. Kau terlalu lama menghilang. Rasanya menahun sudah kuendus jejakmu pada tanah rindu yang basah. Kini di tengah perjalanan waktu, aku sudah menemukanmu, tapi kenyataan menyeretku untuk pergi lagi. Kali ini aku yang akan menghilang.

Dan di antara keruh dan debu jendela itulah terakhir kali mata ini menangkap bayangmu, sekarang tidak ada lagi jejakmu di tanah rindu yang basah. Semua kuhapus dengan jejakku sendiri. Firasatku benar, akan ada hari dimana kamu akan menjemputku, lalu di hari yang sama…kenyataan juga menjemputku untuk pergi.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar