Tok! Tok! Tok!
"Art!!! Kamu nggak berangkat kerja!!???"
Aku terbangun dengan ketokan ibu kost di pintu kamarku, kemudian kulirik jam di hpku...
Astaghfirulloh!!! Jam 7 lewat 10!
"Iya buuu'..."
setengah berteriak kujawab pertanyaan beliau, segera kusambar handuk dan berlari ke kamar mandi, terpaksa kuselesaikan mandiku hanya dalam waktu 5 menit. Ambil air wudlu dan berlari lagi ke kamarku.
"Ya Allah, maafkanlah hambaMu yang kurang kyusuk memanjatkan doa rizqi pagi ini, Amien" o_O!
Waktu sudah menunjukkan pukul 7.20 ketika ku bersiap mengunci pintu kamarku. Menuruni tangga dengan setengah berlari dan kemudian menghampiri ibu kost yang sudah siap memberikan segelas susu putih kepadaku. Kuhabiskan secepat mungkin dan langsung berlari keluar setelah mencium tangan beliau.
"Art....., rotinya nggak dimakan!!???"
"Nggak usah buuu, Art udah telat. Asalammu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Tak kupedulikan pertanyaan-pertanyaan para tetangga yang kebingungan melihatku, aku tetap saja berlari melewati gang-gang sempit. Belok kiri belok kanan kemudian naik ke ujung gang dimana aku biasa menunggu angkot ke tempat kerjaku. Sebenarnya bukan masalah terlambat ke kantor yang kurisaukan, tapi "dia"... (dia?)
"Alhamdulillah..." hatiku berteriak gembira setelah melihat "dia" masih berdiri di pinggir jalan menanti angkot yang sama denganku. ^_^
Ya, "dia" adalah BIDADARIku... Gadis mungil berjilbab pink dan bermata cerah yang setiap hari selalu berangkat bersamaku. Kulihat dia tadi sempat menatap kearahku, melirik ke arlojinya, melihat ke jalan dan kemudian menghentikan sebuah angkot. Aku pun hanya mengikutinya dari belakang, duduk disampingnya dan DIAM...
Begitulah aku setiap hari.
Kadang aku merasa benci dengan "diam"ku, kenapa sih aku tak bisa seperti cowok-cowok lain yang bisa dengan mudah membuka sebuah percakapan? Padahal sudah hampir sebulan aku selalu berangkat bersamanya, turun di tempat yang sama walau kita tidak sekantor, bahkan kita juga pulang bersama-sama, tapi sampai hari ini aku tak pernah tau namanya, tempat tinggalnya juga nomor hpnya
Yang aku tau hanyalah: dia mempunyai dompet persegi panjang warna hitam yang sama persis dengan punyaku... (Dompet? Gak penting banget sih Art!!???)
Dan aku benci dengan "diam"ku! >_
Pernah di suatu pagi kukumpulkan semua keberanianku tuk sekedar menyapanya dengan "Selamat pagi" atau cuma sekedar berkata "Hai", tapi tepat disaat suaraku akan keluar hpnya berdering...
Aaaaarrrgghhttt!!!
Di dalam angkot pun aku bersungut-sungut menyumpahi orang yang nelpon dia, dalam sekejap hilang sudah keberanianku.
Akupun kembali "diam"...
Dan aku benci dengan "diam"ku! >_
Selama ini aku hanya bisa puas memandang wajahnya dari photo yang kuambil secara diam-diam lewat kamera hpku, yang kemudian kucetak di kantor dan kupajang didompetku tepat di sebelah Kartu Tanda Pendudukku (Blasss gak modal...!!!). Pengen rasanya bisa bercanda dengannya, tertawa dan bercerita tentang kita masing-masing.
Huufffttt..., aku tau itu semua tetaplah sebuah MIMPI jika aku masih saja "diam".
Dan aku semakin benci dengan "diam"ku! >_
***
Minggu pagi yang cerah,
mungkin semua orang sangat menikmati hari minggu. Tapi enggak denganku...
Kalian tau kan? karena aku tak bisa melihat bidadariku. T_T hiksss....
Kuambil pensil dan kertas tuk membuat beberapa coretan desain agar jenuh pergi dari hatiku. Tapi, dia selalu aja muncul dalam benakku, mengganggu pikiranku dan membuyarkan konsentrasiku.
Kuraih dompet, kuperhatikan photo bidadariku, tersenyum sendiri dan kemudian menutupnya.
"Ya Allah, kenapa Kau biarkan aku dengan "diam"ku ini. Jika dia memang yang terbaik untukku, biarkanlah dia menjadi milikku. Amien"
Eemmm, Kayaknya diriku butuh kopi dech...,
yaahhh, ternyata kopi habis. Mesti ke minimarket depan nih...
Akupun beranjak pergi, berjalan pelan sambil bersenandung lagu cinta (ciieee, he...).
Sampai di minimarket ternyata cappucinno favoritku dah habis. Huufff..., beli apa yang ada aja dech, yang penting kopi. Satu paket kopi vanila latte pun kuambil, plus beberapa makanan kecil tuk menemani kesibukanku ngedesain ntar. Namun tiba-tiba...
BRAGGKKK!!!
Haduuhhh! Sial, aku menabrak seorang wanita yang juga sedang menuju ke kasir. Dan lebih sialnya lagi, wanita yang kutabrak barusan tak lain adalah bidadariku. Aku hanya diam sambil membantu mengambil belanjaannya yang lumayan banyak, kuletakkan semua belanjaan tadi di meja kasir, tak sepatah katapun keluar dari bibirku. Hanya anggukan kecil permintaan maaf yang bisa kusampaikan...
Segera kuambil dompet, kopi dan makanan kecilku yang ikut terjatuh tadi. Berlalu dari hadapannya dan segera ke kasir. Tak berselang lama bidadariku pun berada di kasir samping kiriku, tambah gemeteran rasanya kaki ini. Cepat-cepat kubuka dompet tuk mengambil selemb...
Astaghfirulloh!!! Sejak kapan aku memajang photoku sendiri dalam dompet!!???
Dan ini juga bukan Kartu Tanda Pendudukku!!!
Setengah tak percaya kutolehkan wajahku ke kiri, kulihat bidadariku juga sedang menoleh ke arahku dengan pandangan yang tak kalah bingungnya... Untuk beberapa detik kami saling bengong melihat satu sama lain. Akupun hanya tersenyum dengan tampang bego, dan dia juga tersenyum dengan wajah yang mulai memerah.
"Subhanallah..."
"Ya Allah, jangan Kau hilangkan "diam"ku ini. Biarkan saja aku dengan "diam"ku...
Karena sekarang aku tau, "diam" adalah anugerahMu...
Karena "diam"ku adalah yang terbaik untukku...
Karena "diam" aku jadi tau, ternyata nama tengah bidadariku adalah "Angel"...
Kau memang selalu memberiku yang terbaik dengan candaMu..
Sampai kapanpun takkan pernah kulupa kalimat pertamanya untukku...
"Dompet kita tertukar yach?"
Dan aku pun mulai suka hari minggu... ^_^
My Pink Angel - Irma THREa-
Aku memandangimu dengan seksama. Baju batik motif corak, ransel yang juga bermotif batik dengan corak dan warna yang berbeda, rambut yang tersisir acak oleh angin. Kau tidak pernah berubah. Begitu pula senyummu. Mungkin itu alasan kenapa banyak wanita yang mengagumimu. Oh ditambah lagi kau pria yang pandai merangkai kata. Lengkap sudah. Kau memang pintar membuat wanita jatuh hati.
Ini sudah kesepuluh kali kau melirik jam di tangan kirimu semenjak kau berdiri di situ. Lihat. Betapa mataku tak pernah lengah mengawasi gerikmu. Ini hari senin. Hari dimana semua orang terlihat begitu sibuk. Termasuk angkutan umum yang berkali-kali hanya melintas di depan mata. Tidak mau berhenti. Aku pun sama gelisahnya denganmu. Harus ke kantor tepat waktu sama sepertimu, tapi memandangi gerak-gerikmu menjadi keasyikan tersendiri untukku.
Aku tidak pernah bosan. Walaupun ini sudah hampir sebulan kulakukan. Menunggu angkutan umum di tempat yang sama denganmu, lalu akhirnya kita menaiki angkutan umum yang sama, dan turun di tempat yang sama.
Aku tidak tahu apa kau mengenalku. Tapi aku mengenalmu sejak dua tahun yang lalu. Dan sungguh aku tidak pernah menyangka aku dan kamu bisa sesering ini bertemu. Tentu saja aku senang sekali. Tapi yang berani kulakukan hanyalah memandangmu dari jauh. Aku selalu ragu untuk menyapa. Kalau saja kau tahu, aku sangat ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang kau perlu tahu. Aku harus menyampaikannya sendiri lewat bibirku. Tapi bibir ini selalu kelu tiap kali kucoba untuk memulainya.
Aku benci dengan diriku sendiri. Kenapa terlalu ragu untuk mencoba. Hanya sekali sapa dan semua akan baik-baik saja. Tapi tetap saja aku tidak bisa. Aku pun benci hari minggu. Hari minggu artinya aku tidak bisa bertemu denganmu satu hari ini. dan itu artinya aku kembali melewatkan kesempatan untuk mulai menyapamu.
“Nduk…bisa tolong belikan gula di minimarket depan? 1 kilogram saja.” Kata-kata ibu sontak membuyarkan lamunanku. Kujawab dengan anggukan kepala. Aku langsung ganti baju dan pergi ke minimarket di seberang jalan.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan 1 kilogram gula di minimarket ini. aku sudah hapal benar tata letak barang di minimarket ini karena hampir setiap minggu aku datang ke sini. malas untuk berkeliling, aku memutuskan untuk langsung membayarnya ke kasir. Tiba-tiba…
BRAKKKK!!!
Bahuku menghantam seseorang. Baru saja bibir ini ingin menyumpah kesal sampai aku melihat siapa yang menabrakku. Ternyata kamu!! bibirku kembali kelu.
Kamu yang aku kira tidak akan kutemui di hari minggu ini, ternyata aku bisa bertemu denganmu di sini. dunia sempit sekali.
Kau hanya mengangguk kecil seperti meminta maaf, lalu dengan cepat mengambil dompetmu yang jatuh. Oh bukan!! Itu bukan dompetmu! Itu dompet….
Aku hanya bisa diam. Kau langsung menoleh padaku tepat setelah kau membuka dompet itu. Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
“dompet kita tertukar yah?” sapamu mengawali.
“itu…itu bukan dompetku.” Jawabku bingung.
Ekspresimu berubah. Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk mengatakannya.
“itu dompet adikku. Dia meninggal 1 tahun yang lalu. Dia..dia sangat menyukaimu. Walaupun dia tidak pernah mengatakannya padamu, Bahkan dia membeli dompet yang sama dengamu. Kau sudah lihat fotomu di dalam dompet itu? Itu satu-satunya fotomu yang ia punya. Dia selalu tersenyum tiap kali memandang foto itu. Dia tidak berhenti bercerita tentangmu. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu…aku hanya ingin kau tahu perasaan adikku, agar ia bisa tenang di alam sana.”
Kau terlihat shock. Lama kau terdiam, sampai akhirnya kau mulai bicara lagi..
“siapa nama adikmu itu?”
Ilustration by : Artya Wicaksa
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:
Posting Komentar